SIMPUL KEDELAPAN: BERSIKAP TENANG DAN BERTAHAP DALAM MENUNTUT ILMU SERTA MENINGGALKAN SIKAP TERGESA-GESA*

*SIMPUL KEDELAPAN: BERSIKAP TENANG DAN BERTAHAP DALAM MENUNTUT ILMU SERTA MENINGGALKAN SIKAP TERGESA-GESA*

Sesungguhnya memperoleh ilmu tidak dapat dilakukan sekaligus dalam satu waktu.

Sebab hati manusia tidak mampu menanggungnya sekaligus.

Ilmu memiliki beban dan bobot, sebagaimana beratnya batu yang dibawa oleh seseorang di tangannya.

Allah Ta'ala berfirman :

> "_Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat."_ (QS. Al-Muzzammil: 5)



Yang dimaksud dengan "perkataan yang berat" adalah Al-Qur'an.

Padahal Al-Qur'an sendiri telah Allah mudahkan untuk dipelajari dan diingat, sebagaimana firman-Nya :

> "_Dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?"_ (QS. Al-Qomar: 17)



Jika Al-Qur'an yang telah dimudahkan oleh Allah saja disifati sebagai sesuatu yang berat, maka bagaimana lagi dengan ilmu-ilmu yang lainnya ?

Karena itulah Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus dalam satu waktu, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur dan bertahap sesuai dengan berbagai peristiwa dan kebutuhan.

Allah Ta'ala berfirman :

> "_Orang-orang kafir berkata: 'Mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan kepadanya sekaligus ?' Demikianlah, agar Kami meneguhkan hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil (bertahap)._" (QS. Al-Furqan: 32)



Ayat ini menjadi dalil tentang pentingnya bersikap tenang, bertahap, dan tidak tergesa-gesa dalam menuntut ilmu.

Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih dan Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam muqaddimah Jami' At-Tafsir.


Renungan

Di zaman ini banyak orang ingin menjadi alim dalam hitungan bulan, ingin menguasai kitab-kitab besar sebelum memahami dasar-dasarnya, dan ingin memetik buah sebelum menanam benihnya.

Padahal sunnatullah dalam menuntut ilmu adalah bertahap.

Tidak ada ulama yang lahir dalam semalam.

Tidak ada hafizh yang menghafal Al-Qur'an dalam satu hari.

Tidak ada faqih yang memahami agama hanya dengan beberapa kali kajian.

Semua membutuhkan waktu, kesabaran, pengulangan, dan ketekunan.

Sebagaimana setetes air yang jatuh terus-menerus mampu melubangi batu yang keras, demikian pula ilmu yang dipelajari sedikit demi sedikit akan terkumpul menjadi gunung ilmu yang kokoh.

Sebaliknya, orang yang tergesa-gesa sering kali ingin mempelajari banyak hal sekaligus, lalu tidak menguasai satu pun dengan baik. Hari ini memulai kitab ini, besok berpindah ke kitab lain, lusa berpindah lagi kepada bidang yang berbeda, hingga akhirnya tidak menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Para ulama dahulu berkata:

> "Barang siapa kehilangan dasar-dasar ilmu, maka ia akan terhalang dari mencapai puncaknya."



Maka jangan sedih jika perjalanan ilmu terasa panjang. Justru itulah jalan yang ditempuh para ulama.

Pelajari satu masalah hingga paham, hafalkan satu matan hingga kokoh, selesaikan satu kitab hingga tuntas, kemudian lanjutkan kepada tahap berikutnya.

Karena ilmu yang sedikit namun terus-menerus akan lebih bermanfaat daripada ilmu yang banyak tetapi hanya sekadar disentuh lalu ditinggalkan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar dalam menuntut ilmu, tekun menempuh tahapan-tahapannya, dan diberi keberkahan dalam setiap ilmu yang dipelajari. Aamiin

Di antara syair Ibnu An-Nahhas Al-Halabi رحمه الله adalah:

> Hari ini satu perkara, esok satu perkara lagi,

Dari butiran-butiran ilmu yang dipungut sedikit demi sedikit.

Dengan cara itulah seseorang memperoleh hikmah,

Karena sesungguhnya banjir besar hanyalah kumpulan dari titik-titik air.



Konsekuensi dari keharusan bersikap tenang dan bertahap dalam menuntut ilmu adalah memulai dengan matan-matan ringkas yang disusun dalam berbagai cabang ilmu, baik dengan cara menghafalnya maupun memahami penjelasannya.

Dan hendaknya menjauhi kebiasaan membaca kitab-kitab yang panjang dan mendalam, yang sebenarnya belum sampai tingkatnya untuk dipelajari.

Orang yang memaksakan diri menelaah kitab-kitab besar sebelum waktunya terkadang dapat merusak agamanya sendiri.

Melewati batas keseimbangan dalam menuntut ilmu terkadang justru menyebabkan ilmu itu hilang dan tidak diperoleh dengan baik.

Di antara mutiara hikmah yang indah adalah perkataan Abdul Karim Ar-Rifa'i رحمه الله, salah seorang ulama dan guru di Damaskus pada abad yang lalu:

> "Makanan orang dewasa adalah racun bagi anak-anak."



Penjelasan

Maksud perkataan ini bukan tentang makanan secara hakiki, tetapi tentang ilmu.

Sebagaimana makanan yang cocok untuk orang dewasa bisa membahayakan anak kecil, demikian pula pembahasan-pembahasan ilmiah yang mendalam, perbedaan pendapat yang rumit, atau kitab-kitab besar yang berat, bisa membingungkan penuntut ilmu pemula apabila dipelajari sebelum waktunya.

Karena itu para ulama selalu menekankan:

Mulailah dari yang ringkas sebelum yang panjang.

Mulailah dari dasar sebelum cabang.

Mulailah dari yang mudah sebelum yang sulit.

Mulailah dari yang jelas sebelum yang rumit.


Renungan

Banyak penuntut ilmu gagal bukan karena kurang cerdas, tetapi karena tidak sabar.

Baru belajar beberapa bulan sudah ingin membaca kitab-kitab besar para imam.

Baru mengenal dasar-dasar bahasa Arab sudah ingin menyelami kitab-kitab yang sulit.

Baru mengenal satu cabang ilmu sudah ingin berbicara tentang persoalan-persoalan besar yang diperselisihkan para ulama.

Akibatnya ia lelah sebelum sampai, bingung sebelum paham, dan berhenti sebelum berhasil.

Padahal para ulama besar yang kita kagumi dahulu memulai dari kitab-kitab kecil, matan-matan ringkas, hafalan-hafalan sederhana, kemudian naik setahap demi setahap hingga mencapai puncak keilmuan.

Maka jangan meremehkan pelajaran yang kecil.

Satu hadits hari ini. Satu kaidah besok. Satu halaman pekan ini. Satu matan tahun ini.

Karena lautan yang luas tersusun dari tetesan-tetesan air, dan gunung yang tinggi tersusun dari butiran-butiran tanah.

Barang siapa sabar mengumpulkan sedikit demi sedikit, maka suatu hari ia akan terkejut melihat betapa banyak ilmu yang telah Allah kumpulkan untuknya.

> Hari ini satu ilmu, esok satu ilmu lagi.

Karena sesungguhnya banjir besar hanyalah kumpulan dari titik-titik air.

Komentar

Postingan Populer