KITAB KHULASHOH TA'DZHIMUL ILMI* ```KARYA SYAIKH SHOLIH AL 'USHOIMI حفظه الله تعالى ```

*KITAB KHULASHOH TA'DZHIMUL ILMI*

```KARYA SYAIKH SHOLIH AL 'USHOIMI حفظه الله تعالى ```

*SIMPUL KETIGA : MENGUMPULKAN KESUNGGUHAN JIWA DALAM MENUNTUT ILMU*

المعقد الثالث

جمع همة النفس عليه

تجمع الهمة على المطلوب بتفقد ثلاثة أمور :

أولها : الحرص على ما ينفع، فمتى وفق العبد إلى ما ينفعه حرص عليه.

ثانيها : الاستعانة بالله في تحصيله.

ثالثها : عدم العجز عن بلوغ البغية منه.

وقد جمعت هذه الأمور الثلاثة في الحديث الذي رواه مسلم (۱) عن أبي هريرة له ، أنَّ النَّبِيَّ ﷺ قال: «احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تَعْجِز».

قال الجنيد الله : «ما طلب أحد شيئًا بجد وصدق إلَّا ناله، فإن لم ينله كله نال بعضه».

وقال ابن القيم لله في كتابه «الفوائد» :

إذا طلع نجم الهِمَّة في ظلام ليل البطالة، وردفه قمر العزيمة؛ أشرقت الأرض بنور ربها».
وإن مما يعلي الهِمَّة ويسمو بالنفس : اعتبار حال من سبق، وتعرف همم القوم الماضين.

فأبو عبد الله أحمد ابن حنبل كان - وهو في الصبا - ربما أراد الخروج قبل الفجر إلى حلق الشيوخ، فتأخذ أُمُّه بثيابه وتقول - رحمةً به -: «حتى يُؤَذِّنَ النَّاس أو يُصبحوا». -

وقرأ الخطيب البغدادي الله «صحيح البخاري» كله على إسماعيل الحيري في ثلاثة مجالس ؛ أثنان منها في ليلتين من وقت صلاة المغرب إلى صلاة الفجر، واليوم الثالث من ضحوة النهار إلى صلاة المغرب، ومن المغرب إلى طلوع الفجر.

وكان أبو محمَّدٍ ابنُ التَّبَّانِ أَوَّلَ ابتدائه يدرس الليل كله، فكانت أُمه ترحمه وتنهاه عن القراءة بالليل، فكان يأخذ المصباحويجعله تحت الجفنة - شيء من الآنية العظيمة - ويتظاهر بالنوم، فإذا رقدت أخرج المصباح وأقبل على الدرس.

فكن رجلًا رِجْلُه على الثرى ثابتة، وهامة همته فوق الثريا سامقة، ولا تكن شاب البدن أشيب الهِمَّة؛ فَإِنَّ هِمَّة الصَّادق لا تشيب.

كان أبو الوفاء ابن عقيل - أحد أذكياء العالم من فقهاء الحنابلة - يُنشد وهو في الثمانين: -
ما شاب عزمي ولا حزمي ولا خُلقي ولا ولائي ولا ديني ولا كرمي

وإنما أعتاض شعري غير صبغته والشيب في الشعر غير الشيب في الهمم


Kesungguhan dan tekad yang kuat dalam meraih suatu tujuan dapat dihimpun dengan memperhatikan tiga perkara:

Pertama:

Bersungguh-sungguh terhadap sesuatu yang bermanfaat.

Apabila seorang hamba diberi taufik untuk mengetahui sesuatu yang bermanfaat baginya, maka hendaknya ia bersemangat untuk meraihnya.

Kedua:

Memohon pertolongan kepada Allah dalam mendapatkannya.

Karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Ketiga:

Tidak bersikap lemah dan putus asa dalam mencapainya.

Jangan menyerah di tengah jalan dan jangan merasa tidak mampu untuk meraih tujuan yang diinginkan.

Ketiga perkara ini telah dihimpun dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

> "Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah."



Al-Junaid رحمه الله berkata:

> "Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan kesungguhan dan kejujuran, kecuali ia akan mendapatkannya. Jika ia tidak memperoleh seluruhnya, maka ia akan memperoleh sebagiannya."



Ibnu Al-Qayyim رحمه الله berkata dalam kitab Al-Fawā'id:

> "Apabila bintang semangat terbit di tengah gelapnya malam kemalasan, lalu diiringi oleh bulan tekad yang kuat, maka bumi akan bersinar dengan cahaya Rabb-nya."



Di antara hal yang dapat meninggikan semangat dan mengangkat jiwa adalah memperhatikan keadaan orang-orang yang telah mendahului kita dan mengenal tinggi rendahnya cita-cita para ulama terdahulu.

Kisah Imam Ahmad رحمه الله

Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal ketika masih muda terkadang ingin berangkat menuju majelis para guru sebelum fajar menyingsing. Ibunya yang menyayanginya memegang pakaiannya seraya berkata:

> "Tunggulah hingga orang-orang mengumandangkan adzan atau hingga pagi tiba."



Kisah Al-Khathib Al-Baghdadi رحمه الله

Al-Khathib Al-Baghdadi pernah membaca seluruh kitab Shahih Al-Bukhari kepada gurunya, Ismail Al-Hairi, hanya dalam tiga majelis.

Dua majelis dilakukan selama dua malam penuh, mulai dari waktu Maghrib hingga terbit fajar. Adapun majelis ketiga berlangsung dari pagi hari hingga Maghrib, kemudian dilanjutkan lagi dari Maghrib hingga fajar.

Kisah Ibnu At-Tabban رحمه الله

Pada awal masa belajarnya, Abu Muhammad Ibnu At-Tabban belajar sepanjang malam. Ibunya merasa kasihan dan melarangnya membaca pada malam hari.

Maka ia mengambil lampu, menyembunyikannya di bawah sebuah bejana besar, lalu berpura-pura tidur. Ketika ibunya telah tertidur, ia mengeluarkan lampu tersebut dan kembali melanjutkan pelajarannya.

Tinggikan Cita-citamu

Jadilah seorang yang kedua kakinya kokoh berpijak di bumi, namun cita-citanya menjulang tinggi hingga ke bintang Tsurayya.

Jangan menjadi orang yang masih muda usianya tetapi sudah tua semangatnya. Sebab semangat seorang yang jujur dalam menuntut ilmu tidak akan pernah menua.

Abul Wafa' Ibnu Aqil رحمه الله, salah seorang ulama besar dan cerdas dari kalangan fuqaha Hanabilah, ketika usianya telah mencapai delapan puluh tahun masih melantunkan syair:

> Tidaklah menua tekadku, tidak pula keteguhanku, akhlakku, kesetiaanku, agamaku, maupun kemuliaanku.

Yang berubah hanyalah warna rambutku tanpa semirnya.

Karena uban pada rambut berbeda dengan uban pada semangat dan cita-cita.



Pelajaran yang Dapat Diambil

Penuntut ilmu yang berhasil bukanlah yang paling cerdas, tetapi yang paling kuat semangatnya, paling besar kesungguhannya, dan paling sabar dalam menempuh jalan ilmu.

Banyak orang memiliki kecerdasan, tetapi sedikit yang memiliki ketekunan. Banyak yang memulai perjalanan ilmu, tetapi sedikit yang mampu bertahan hingga akhir.

Karena itu, kuatkan tekad, mohon pertolongan kepada Allah, jauhi rasa malas dan putus asa, serta jadikan kisah para ulama sebagai bahan bakar yang menyalakan semangat dalam menuntut ilmu hingga akhir hayat.

Komentar

Postingan Populer