UNTUK SANG USTADZ YANG MEREMEHKAN SYAIKH ALBANI

*UNTUK SANG USTADZ YANG MEREMEHKAN SYAIKH ALBANI رحمه الله*

يا ناطح الجبل العالي ليكلمه :

أشفق على الرأس لا تشفق على الجبل ..!!

كناطح صخرة يوماً ليوهنها :

فلم يضرها وأوهى قرنه الوعل ..!!

> “Wahai orang yang menanduk gunung yang tinggi untuk merobohkannya, *kasihanilah kepalamu; jangan kasihani gunung itu!”*

“Seperti seekor kambing gunung yang suatu hari menanduk batu cadas untuk melemahkannya;
batu itu tidak sedikit pun terluka, justru tanduk kambing gunung itulah yang menjadi patah.”



Pelajaran/hikmah :
Jangan menghadapi sesuatu yang jauh lebih kuat daripada kemampuan kita dengan cara yang gegabah. Ada kalanya seseorang menghabiskan tenaga untuk melawan sesuatu yang tidak mungkin ia kalahkan, sehingga justru dirinya sendiri yang mengalami kerugian.


Seorang ustadz mengingkari gelar *muhaddits* Syaikh Albani رحمه الله yang bahkan telah diakui ulama sedunia ('Ulama Saudi, Mesir, Jazair, Yordania, Palestina, Suriah dll) dan lintas zaman. Maka pepatah Arab diatas sangatlah relate untuk sang ustadz hadaahullaah.

Karya-karya Syaikh Albani diterima kaum muslimin, menunjukkan Allah takdirkan beliau diberkahi ilmunya.

Pesan untuk kita adalah perbaiki pondasi agama supaya memiliki rasa cinta dan hormat kepada Ahli Ilmu.

Dahulu para Ulama mengajarkan anak-anak mereka mencintai para 'Ulama dari kalangan sahabat.
قال الإمام مالك رحمه الله: كانوا يعلموننا حب أبي بكر وعمر، كما يعلموننا السورة من القرآن.
Imam Malik رحمه الله berkata:
> _“Mereka dahulu mengajarkan kepada kami kecintaan kepada Abu Bakar dan Umar, sebagaimana mereka mengajarkan kepada kami satu surah dari Al-Qur’an.”_
 
Bahkan sekelas Ibnu 'Abbas (seorang Alu Bait Rasulullah dan anak paman beliau) sampai tawadhu menunggu didepn pintu seorang 'Ulama Ubay bin Ka'b, mendatangi rumahnya, tidak mengetuk pintunya bahkan menunggu sampai Ubay bin Ka'b keluar rumahnya رحمهم الله جميعا.

Memang betul perkataan kaum Salaf :
قال ابن المبارك رحمه الله: (نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم)

> “Ibnul Mubarak mengatakan : kita lebih membutuhkan kepada sedikit adab, dibandingkan ilmu yang banyak”

Justru perkataan - perkataan nyelenehnya akan menjadi bumerang bagi diri Ustadz itu sendiri. Dalam ilmu hadits ada pembahasan :
كثرة الخطأ والغفلة تخفض درجة الراوي وتضعف ضبطه، مما قد يجعله في رتبة الصدوق الذي يهم، أو الضعيف، أو المتروك بحسب غلبة الخطأ على روايته.

> Banyaknya kesalahan dan kelalaian dapat menurunkan derajat seorang perawi dan melemahkan ketelitiannya dalam meriwayatkan hadis. Hal tersebut dapat menyebabkan ia berada pada tingkatan perawi yang jujur tetapi sering keliru (الصَّدُوقُ الَّذِي يَهِمُ), atau perawi yang lemah (الضَّعِيف), atau bahkan perawi yang ditinggalkan riwayatnya (المَتْرُوك), sesuai dengan tingkat dominasi kesalahan dalam riwayat-riwayatnya.

Hal itu justru menjatuhkan kredibilitasnya dalam ilmu.

Terakhir sebagai pengingat kita semua, ucapan Al Hafizh Ibnu 'Asaakir رحمه الله تعالى :
للحافظ ابن عساكر (الإمام أبو القاسم علي بن حسن بن هبة الله بن عساكر الدمشقي، صاحب كتاب تاريخ دمشق).وقد ذكرها في كتابه "تبيين كذب المفتري فيما نسب إلى الإمام أبي الحسن الأشعري"، حيث قال: «واعلم أخي -وفقني الله وإياك لمرضاته، وجعلنا ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته- أن لحوم العلماء مسمومة، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة»

Berikut terjemahannya:

Perkataan al-Hafizh Ibnu ‘Asakir رحمه الله

Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir adalah Imam Abu al-Qasim ‘Ali bin Hasan bin Hibahullah bin ‘Asakir ad-Dimasyqi, penulis kitab Tarikh Dimasyq.

Beliau menyebutkan perkataan ini dalam kitabnya Tabyīn Kadzib al-Muftarī fīmā Nusiba ilā al-Imām Abī al-Hasan al-Asy‘arī. Beliau berkata:

««واعلم أخي -وفقني الله وإياك لمرضاته، وجعلنا ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته- أن لحوم العلماء مسمومة، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة»»

Artinya:

> «“Ketahuilah, wahai saudaraku—semoga Allah memberiku dan engkau taufik untuk mendapatkan keridaan-Nya, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang takut kepada-Nya serta bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa—bahwa daging para ulama itu beracun, dan kebiasaan Allah yang sering terjadi adalah menyingkap aib orang-orang yang merendahkan mereka.”»

Makna *“daging para ulama itu beracun”* adalah ungkapan peringatan keras agar seseorang tidak mudah mencela, merendahkan, atau menjatuhkan kehormatan para ulama. Sebagaimana memakan daging yang beracun membahayakan seseorang, demikian pula mencela ulama dapat membawa keburukan bagi agama dan pelakunya.

اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون

Komentar

Postingan Populer