bukan) Taqlid Buta

Membela kehormatan ulama seperti Syaikh Al Albani itu bukan berarti mengajak umat untuk taqlid buta kepada beliau.

Dua hal ini sering gagal dibedakan oleh orang-orang yang cara berpikirnya hitam-putih:

1. Kritik Ilmiah (An-Naqdul ‘IlmÄ«) adalah Tradisi Ahlus Sunnah
Syaikh Al-Albani rahimahullah adalah manusia biasa, bukan nabi yang maksum. Beliau bisa salah dan bisa benar. Para ulama hadits lain—bahkan murid-murid beliau sendiri—kerap mengoreksi atau berbeda ijtihad dengan beliau dalam beberapa takhrij hadits. 
Syaikh Al-Albani sendiri seumur hidupnya mendidik umat agar tidak taqlid buta kepada siapa pun, termasuk kepada diri beliau sendiri.

2. Membela Ulama dari Pelecehan dan Ad Hominem adalah Kewajiban Adab
Yang kami bantah bukan koreksi ilmiah yang berbobot, melainkan:
- Serangan ad hominem yang merendahkan profesi dan martabat beliau,
- Tuduhan dusta bahwa beliau bukan ahli hadits oleh orang yang shorof dan nasab dasarnya saja berantakan,
- sikap pongah orang yang fakir karya tapi berani menginjak-injak dedikasi puluhan tahun ulama besar.

Prinsip ini berlaku mutlak untuk seluruh ulama Islam:
Jika hari ini ada orang jahil yang berani mencela, meremehkan, atau mempermainkan martabat Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, atau Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah—kami pun akan berdiri tegak di barisan terdepan untuk membela kehormatan para imam tersebut dan membantah para pencelanya!

Menghormati dan membela ulama adalah cermin dari adab dan rasa syukur atas jasa ilmu mereka. 

Yang aneh itu: Mengaku paling anti-taqlid dan paling ilmiah, tapi ketika ulamanya dibantah secara adab justru ngamuk, giliran ulama lain dihina secara murahan malah bertepuk tangan.

-Adzan ashar, masjid dulu-

Komentar

Postingan Populer